Masalah Ibadah Adalah Masalah Tauqifiyah; Jika Tidak Ada Dasar Hukumnya Maka Tertolak


Alhamdulillah, segala puji bagi Alloh, yang telah memberikat rahmat dan nikmatnya kepada kita sehingga saat ini kita bisa menikmati nikmat iman dan islam. Sholawat dan salam kita curahkan kepada Nabi Muhammad sholallohu ‘alaihi wasalam, kepada keluarga serta sahabat-sahabatnya, semoga kita semua mendapat safa’atnya baik di dunia maupun di akhirat kelak.

Suatu ketika, saya pernah bertanya kepada seorang sahabat dekat saya tentang amalan ibadah yang dia lakukan. Seperti kebanyakan umat islam di desa tersebut masih banyak yang terpengaruh dengan amalan-amalan kejawen. Pada waktu itu saya bertanya, “mengapa kamu mengamalkan ibadah ini, padahal ibadah tersebut tidak diajarkan oleh nabi, dan tidak pula diperintahkan oleh Alloh”. Dengan singkat dia menjawab “yang penting niatnya baik, dan ini sudah menjadi tradisi di desa tempat kita”. Benarkah niat baik dalam beribadah akan diterima jika ibadah tersebut dilakukan dengan tanpa dasar perintah yang ada dalam Al qur’an dan Assunnah??

Ibadah adalah masalah tauqifiyah.

Makna “Ibadah adalah tauqifiyah” atau “Ibadah dibangun di atas tauqif” menurut penjelasan Para ulama  adalah tidak boleh beribadah kepada Alloh dengan satu ibadah kecuali apabila ibadah ini telah benar-benar terdapat ketetapannya dalam nash-nash syar’i (Al-Qur’an dan sunnah) bahwa itu ibadah yang telah Alloh Ta’ala Syariatkan. Karena ibadah tidak disyariatkan (tidak diperintahkan) kecuali dengan adanya dalil syar’i yang menunjukkan atas perintah tersebut.

Alloh ‘Azza wa Jalla berfirman,

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا

Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridai Islam itu jadi agama bagimu.” (QS. Al-Maidah: 3)

Alloh Ta’ala telah menyempurnakan agama ini untuk kita, maka apa yang tidak Alloh Ta’ala syariatkan sesudah turunnya ayat ini maka bukan bagian dari agama kita.

Dari Abu Dzar radhiyallohu ‘anhu, bahwasanya Rasululloh shallallohu ‘alaihi wasallam bersabda,

مَا بَقِيَ شَيْءٌ يُقَرِّبُ مِنَ الْجَنَّةِ ، ويُبَاعِدُ مِنَ النَّارِ ، إِلا وَقَدْ بُيِّنَ لَكُمْ

Tidak ada sesuatu yang mendekatkan kepada surga dan menjauhkan dari neraka kecuali telah diterangkan kepada kalian.” (HR. Thabrani dalam al-Kabir no. 1647 dan dishahihkan dalam al-Shahihah oleh Syaikh Al-Albani rahimahullaah)

مَا تَرَكْتُ شَيْئًا مِمَّا أَمَرَكُمُ اللهُ بِهِ إِلاَّ وَقَدْ أَمَرْتُكُمْ بِهِ ، وَلاَ تَرَكْتُ شَيْئًا مِمَّا نَهَاكُمْ عَنْهُ إِلاَّ وَقَدْ نَهَيْتُكُمْ عَنْهُ

Tidaklah aku tinggalkan sesuatu yang Alloh perintahkan kepada kalian kecuali telah aku perintahkan kalian melaksanakannya. Dan tidak juga aku meninggalkan suatu larangan yang telah Alloh larang kalian darinya kecuali telah aku larang kalian darinya.” (HR. al-Syafi’i dalam Musnadnya dan dihassankan Al-Albani dalam al-Shahihah)

Maka apa yang tidak pernah Rasululloh shallallohu ‘alaihi wasallam jelaskan kepada kita, maka ia bukan bagian dari agama ini dan bukan pula amalan yang bisa mendekatkan kepada surga dan menjauhkan dari neraka.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullaah berkata, “Berdasarkan pengkajian terhadap ushul syariah, kita mengetahui bahwa ibadah-ibadah yang telah Alloh wajibkan atau yang Dia cintai tidak ditetapkan perintahnya kecuali dengan syariat. Sedangkan adat (tradisi) adalah apa yang biasa dikerjakan manusia dalam kehidupan dunianya untuk mendapatkan apa yang dibutuhkannya. Maka hukum asal dalam masalah ini adalah tidak ada larangan. Tidak boleh dilarang kecuali apa yang telah dilarang oleh Alloh dan Rasul-Nya. Hal itu, karena perintah dan larangan adalah syariat (ajaran) Alloh Ta’ala. Sedangkan ibadah harus ada perintahnya. Maka yang tidak ada ketetapan bahwa itu diperintahkan, bagaimana bisa disebut ibadah? Dan adat kebiasaan apa saja yang tidak ditetapkan bahwa itu dilarang, bagaimana bisa dihukumi dilarang?

Oleh karena inilah, Imam Ahmad dan ulama hadits lainnya berkata: Sesungguhnya hukum asal dalam ibadah adalah tauqif, tidak disyariatkan kecuali apa yang telah Alloh Ta’ala syariatkan. Jika tidak demikian maka kita telah masuk dalam makna firman Alloh Ta’ala,

أَمْ لَهُمْ شُرَكَاءُ شَرَعُوا لَهُمْ مِنْ الدِّينِ مَا لَمْ يَأْذَنْ بِهِ اللَّهُ

Apakah mereka mempunyai sembahan-sembahan selain Alloh yang mensyariatkan untuk mereka agama yang tidak diizinkan Alloh?

Sedangkan adat (tradisi) hukum asalnya dimaafkan, tidak boleh dilarang. Kecuali apa yang telah Alloh haramkan. Jika tidak demikian, maka kita telah masuk dalam makna firman Alloh,

قُلْ أَرَأَيْتُمْ مَا أَنْزَلَ اللَّهُ لَكُمْ مِنْ رِزْقٍ فَجَعَلْتُمْ مِنْهُ حَرَامًا وَحَلَالًا

Katakanlah: “Terangkanlah kepadaku tentang rezeki yang diturunkan Alloh kepadamu, lalu kamu jadikan sebagiannya haram dan (sebagiannya) halal”.” (QS. Yunus: 59)

Oleh karenanya, Alloh mencela kaum musyrikin yang mereka membuat syariat dalam agama mereka yang tidak diizinkan oleh Alloh dan mengharamkan sesuatu yang tidak Dia haramkan.” (Majmu’ al-Fatawa: 29/16-17)

Syaikh Muhammad bin Ibrahim rahimahullaah berkata, “Ibadah adalah tauqifiyah, maka apa saja yang telah disyariatkan oleh Alloh dan Rasul-Nya secara mutlak, seperti itulah disyariatkannya. Sedangkan yang disyariatkan dengan terikat waktu atau tempat maka kita batasi dan kita ikat dengan tempat dan waktu tersebut.” (Fatawa wa Rasail Muhammad bin Ibrahim: 6/75)

Ulama Lajnah Daimah berkata, “Ibadah dibangun di atas tauqif. Karenanya tidak boleh dikatakan bahwa ini ibadah yang disyariatkan ditinjau dari sisi asal perintahnya, jumlahnya, bentuknya, atau tempatnya kecuali dengan dalil syar’i yang menunjukan perintah itu.” (Fatawa al-Lajnah al-Daimah: 3/73)

Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullaah berkata, “Hukum asal ibadah adalah larangan. Karenanya bagi seseorang tidak boleh beribadah untuk Alloh kecuali dengan sesuatu yang tidak pernah Alloh syariatkan; baik dalam kitab-Nya atau dalam sunnah Rasul-Nya shallallohu ‘alaihi wasallam. Dan kapan saja seseorang ragu terhadap salah satu amal, apakah ia ibadah atau tidak, maka pada asalnya ia bukan ibadah sehingga ada dalil yang menunjukkan bahwa hal itu merupakan ibadah.” (Fatawa Nuur ‘Ala al-Darb: 1/169)

Syaikh Shalih al-Fauzan hafizhahulloh berkata, “Ibadah adalah tauqifiyah, tidak boleh mengamalkan suatu ibadah di satu tempat, waktu, corak ibadah tertentu kecuali dengan tauqif dan perintah dari Syaari’ (pembuat syariat/Alloh Ta’ala). Adapun orang yang membuat-buat hal baru yang tidak pernah diperintahkan oleh Syaari’ dari urusan ibadah, tempatnya, waktunya, atau bentuknya maka ia adalah bid’ah.” (al-Muntaqa’ min Fatawa al-Fauzan: 13/16)

Syaikh Abdul Aziz bin Baaz rahimahullaah berkata, “Ibadah adalah tauqifiyah, maka tidak disyariatkan kecuali apa yang telah dibawa oleh Rasululloh shallallohu ‘alaihi wasallam seperti shalat lima waktu, zakat, puasa Ramadlan, haji dan ibadah-ibadah lainnya yang telah Alloh syariatkan berupa shalat-shalat sunnah, shadaqah, shaum, haji, jihad dan yang selain itu yang telah ditetapkan dari Rasululloh shallallohu ‘alaihi wasallam bukti disyariatkannya, baik berupa sabda atau amal beliau, seperti shalat Dzuha, shalat istikharah, tahiyatul masjid dan amal-amal ibadah lainnya yang telah ditunjukkan oleh dalil-dalil syar’i.”

Setiap perkara baru dalam dien atau perkara yang diada-adakan adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah sesat.

Mengamalkan sesuatu yang tidak ada dasar hukumnya (dalil dari Alqur’an dan Assunnah) berarti menciptakan sesuatu yang baru dalam masalah agama, hal inilah yang disebut bid’ah oleh rosululloh sholallohu ‘alaihi wasalam.

Alloh Ta’ala berfirman,

فَإِنْ لَمْ يَسْتَجِيبُوا لَكَ فَاعْلَمْ أَنَّمَا يَتَّبِعُونَ أَهْوَاءَهُمْ وَمَنْ أَضَلُّ مِمَّنِ اتَّبَعَ هَوَاهُ بِغَيْرِ هُدًى مِنَ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ

Maka jika mereka tidak menjawab (tantanganmu), ketahuilah bahwa sesungguhnya mereka hanyalah mengikuti hawa nafsu mereka (belaka). Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang mengikuti hawa nafsunya dengan tidak mendapat petunjuk dari Alloh sedikit pun. Sesungguhnya Alloh tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang dzalim.” (QS. Al-Qashash: 50)

Nabi shallallohu ‘alaihi wasallam bersabda,

مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ

Siapa saja yang membuat perkara baru yang tidak ada tuntunanya dalam agama kami, maka amalannya tertolak.” (HR. Al-Bukhari: 2697)

Nabi shallallohu ‘alaihi wasallam bersabda, “Hendaklah kalian mengikuti sunnahku dan sunnah khulafa’ rasyidin yang datang sesudahku. Gigitlah ia dengan gerahammu. Jauhilah oleh kalian perkara-perkara yang muhdats (perkara baru dalam urusan dien), karena seburuk-buruk urusan dalam dien adalah yang muhdats. Dan setiap perkara baru dalam dien adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah kesesatan.” (HR. Abu Dawud, al-Tirmidzi, Ibnu Hibban, dan al-Haakim)

Dari hadist di atas diterangkan bahwa kita tidak diperbolehkan membuat perkara baru atau aturan atau cara baru dalam beribadah, tetapi rosululloh menyuruh kita untuk mengikuti sunnahnya dan sunnah khulafa’ rasyidin dengan menggigitnya dengan geraham yang artinya sunnah tersebut harus dipegang dengan kuat.

Syarat diterimanya ibadah

Syarat diterimanya ibadah oleh Alloh adalah Ikhlas  dan benar, hal ini  ditunjukkan oleh firman Alloh Ta’ala,

فَمَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا

Barang siapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya maka hendaklah ia mengerjakan amal yang shaleh dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Tuhannya.” (QS. Al-Kahfi: 110)

Maksudnya hendaknya beramal dengan ikhlas untuk Alloh dan benar sesuai dengan syariat Rasululloh shallallohu ‘alaihi wasallam. Keduanya merupakan rukun amal yang diterima, yaitu ikhlas dan benar.

Alloh Ta’ala berfirman,

الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا

Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya.” (QS. Al-Mulk: 2)

Amal terbaik adalah yang paling ikhlas  dan paling shawab/benar.

Sedangkan orang yang beribadah tanpa disertai dua syarat di atas, maka ibadahnya akan tertolak. Ibnul Qayyim rahimahulloh pernah berkata, “Beramal tanpa ikhlas dan mengikuti Sunnah laksana musafir yang memenuhi tempat minumnya dengan pasir, sangat memberatkannya dan tidak memberinya manfaat.”

Kesimpulan:

  1. Bahwa hukum asal ibadah adalah haram dan tidak boleh ditegakkan kecuali adanya dalil syar’i yang memerintahkannya, baik berupa perintah dasar adanya, waktu, tempat, atau tata caranya. Karenanya bagi yang ingin beribadah kepada Alloh harus mengetahui dan memastikan bahwa amal ibadah yang akan dikerjakannya memang benar-benar ada perintahnya dari Al-Qur’an dan sunnah. Dia juga harus memperhatikan tentang waktu, tempat, dan tata caranya karena semua itu menjadi bagian makna tauqifiyah.
  2. Amalan yang tidak ada dasar hukum dan tidak ada contoh dari Rosululloh adalah bid’ah dan bid’ah adalah sesat.
  3. Syarat diterimanya ibadah adalah ibadah tersebut dilaksanakan dengan niat ikhlas dan benar dengan berdasarkan perintah Alloh yang terdapat dalam Al quran dan yang telah dicontohkan oleh Rosululloh shoalallohu ‘alahi wasalam.

Wallohu ‘alam bishshowab.

Dari berbagai sumber

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: